Вход на сайт

Просмотр новости

Найдите то, что Вас интересует

Air Mata Kiai Hasan Abdullah Sahal di Seratus Tahun Gontor

Дата публикации: 23-09-2026 13:47:04

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi itu, Ahad, 20 September 2026, matahari belum benar-benar terbit ketika lapangan sepak bola Gontor mulai dipenuhi orang. Embun masih menempel di rumput, udara masih dingin, tetapi...

Основное содержимое страницы с новостью.

deden-mauli-darajat-dosen-un-syarif_250311122621-132.png

Oleh: Deden Mauli Darajat, Ketua Alumni Gontor 2002 dan Penulis Buku Santri Profesor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi itu, Ahad, 20 September 2026, matahari belum benar-benar terbit ketika lapangan sepak bola Gontor mulai dipenuhi orang. Embun masih menempel di rumput, udara masih dingin, tetapi pondok sudah lebih ramai dari biasanya.

Ribuan alumni berdatangan. Ada yang datang dari kota-kota jauh dan ada pula yang menyeberangi benua. Mereka mengikuti senam pagi bersama. Di lapangan itu, usia seakan tidak lagi terasa. Mereka yang rambutnya sudah memutih berdiri di samping mereka yang baru beberapa tahun lulus. Semuanya bergerak dengan irama yang sama, seperti dahulu ketika bel subuh membangunkan mereka.

Selesai senam, barisan terbentuk dengan sendirinya. Tanpa banyak aba-aba, setiap orang tahu ke mana harus melangkah karena marhalah (angkatan) adalah rumah kedua di dalam rumah besar bernama Gontor.

Ada yang mengibarkan bendera angkatan. Ada yang mengenakan kaus seragam dengan angka tahun kelulusan. Ada pula yang sibuk mengangkat ponsel, seolah takut momen itu berlalu begitu saja. Lalu satu angkatan mulai bernyanyi, angkatan lain menjawab, dan yel-yel saling bersahutan hingga memenuhi halaman masjid dan BPPM.

Suara itu terdengar hingga ke kediaman pimpinan pondok. Di rumahnya, KH Hasan Abdullah Sahal mendengar keriuhan yang tidak biasa.

"Ada apa, toh?" tanyanya kepada keponakannya.

"Ada yang berfoto antar-marhalah dan menyanyikan yel-yel marhalah," jawab Gus Thoha.

Pak Kiai tidak memanggil siapa pun dan tidak menunggu dijemput. Ia keluar rumah, mengambil sebuah kursi plastik, membawanya perlahan-lahan ke halaman, lalu duduk di bawah pohon.

Tidak ada panggung dan tidak ada sambutan. Tidak ada pula yang menyiapkan tempat khusus untuknya. Seorang kiai duduk di kursi sederhana, memandang iring-iringan yang datang dari segala arah.

Yang berjalan di hadapannya adalah murid-muridnya. Dahulu mereka datang dengan koper seadanya, dengan wajah cemas dan mata yang mencari-cari ibu. Kini mereka telah menjadi ayah, guru, pengusaha, birokrat, ulama, akademisi, profesional, dan tokoh di tengah masyarakat masing-masing.

Di sela-sela suara yel-yel itu, air mata Pak Kiai jatuh. Air mata itu bukan karena kesedihan. Itu bukan tangis kehilangan. Itu tangis seseorang yang melihat anak-anaknya pulang.

Barangkali di depan matanya, waktu berjalan mundur. Anak-anak yang dahulu ia lihat dalam barisan kini melangkah dengan uban di kepala. Wajah-wajah yang dahulu ia panggil ke depan kini datang membawa anak dan cucu. Mungkin pula ia teringat kepada mereka yang tidak lagi dapat hadir, yang namanya kini hanya tinggal dalam doa.

Kita tidak pernah tahu persis apa yang ada di dalam hatinya pagi itu. Mungkin ia sedang mengenang, mungkin sedang bersyukur, atau mungkin hanya menikmati kebahagiaan paling sederhana yang dimiliki seorang guru: melihat murid-muridnya berkumpul kembali di rumah tempat mereka ditempa.

Yang Tidak Ikut Hilang Bersama Waktu

Setiap orang yang pernah mondok tahu bahwa Gontor bukan sekadar tempat belajar. Di sana kita belajar bahasa, kitab, dan berpidato. Namun, di sana pula kita belajar bangun sebelum matahari terbit, mengantre dengan sabar, mencuci pakaian sendiri, bekerja dalam kepanitiaan, dan hidup bersama teman-teman dari berbagai daerah. Kita belajar bahwa hidup bukan hanya soal menerima, melainkan juga memberi.

Semua itu tidak ikut tertinggal di gerbang pondok ketika ijazah diterima. Nilai-nilai itu terus dibawa ke mana pun langkah pergi: ke kantor, ruang kelas, rumah tangga, dan tanah rantau. Maknanya bahkan terasa semakin kuat seiring bertambahnya usia, sebab manusia sering kali baru memahami harga sebuah tempat setelah jauh meninggalkannya.

Itulah sebabnya, ketika yel-yel angkatan menggema di lapangan, yang dinyanyikan sebenarnya bukan sekadar lagu. Mereka sedang menyanyikan potongan hidup mereka sendiri.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Схожие новости

#Наименование новостиТональностьИнформативностьДата публикации
1Steelers announce 2026 Hall of Honor class013.3301-08-2026
2Over 26,000 tickets sold for Russia-Iran friendly football match in Kazan018.8624-09-2026
3Merawat Peradaban: Gontor, Aceh, dan Dialektika Pembaruan Dayah08.4821-09-2026
4Palo Duro Dons ready for encore after historic season07.6504-08-2026
5High School Football - Week 1 Primer016.820-08-2026
610 Sep 2026 12:00 : 2026 Annual CS Fall Fair047.4124-06-2026
720 сентября был футбол на стадионе космос и мне удалось ...08.2620-09-2026
810 Sep 2026 12:00 : 2026 Annual CS Fall Fair047.4124-06-2026
9Iruñerrian Gaur 2026-09-1801018-09-2026
10「2026 High School Festival」を開催します【令和8年9月6日】019.5301-08-2026

Классификация: . Схожих патентов: 0. Схожих новостей: 10. Тональность: 0. Информативность: 15.62. Источник: www.republika.co.id.